ads top

Syafiq Mughni: Dari Sudut Budaya dan Tradisi, Indonesia Perlu Orang Seperti A. Hassan

Prof. Dr. Syafiq A. Mughni (kedua dari kanan) dalam Seminar Pemikiran Reformis VI (Foto eksklusif: Ihsan Setiadi Latief).
Moslemzone.com - Seminar Pemikiran Reformis Ke VI oleh Islamic Rennaissance Front (IRF) menampilkan pemikiran tokoh dan ulama Persatuan Islam, A. Hassan di Kuala Lumpur, Sabtu (21/0117) lalu.

Hadir sebagai narasumber ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Bidang Antar Agama dan Peradaban, Prof Dr Syafiq A. Mughni, ketua Persatuan Muhammadiyah Pulau Pinang, Zainal Abidin Zamzam dan dosen National University of Singapore, Dr Azhar Ibrahim.

Menurut Syafiq, ada beberapa tinjauan dalam meletakkan pemikiran A. Hassan dalam konteks masyarakat Melayu di Malaysia.

"Intinya, masyarakat Melayu secara hukum menganut madzab Syafii sehingga sulit ditembus fikiran-fikiran baru di luar madzhab tersebut, sehingga fikiran-fikiran A. Hassan sulit tersebar di masyarakat Melayu apalagi di Johor Bahru, bahkan kitab "Soal Jawab Karangan A Hassan” diharamkan,” seperti dilansir Antara.com, Selasa (24/01/17).

Membahas masalah biografi A. Hassan yang diletakkan dalam konteks reformasi Islam di Indonesia, kata Syafiq, bisa dibandingkan antara A. Hassan, Ahmad Syurkati dan Ahmad Dahlan.

Di antara ketiganya, imbuhnya, A. Hassan adalah reformer yang paling produktif dan betul-betul menguasai banyak ilmu, khususnya ilmu agama.

"Dia menulis ushul fiqih, masalah ijtihad, ittiba' kemudian masalah taklid dan berbagai persoalan yang dianggap taklid atau manifestasi dari taklid misalnya bermadzhab,” kata mantan rektor Universitas Muhammadiyyah Sidoarjo ini.

Pendapat A. Hassan, bermadzhab itu identik dengan taklid yang dilarang oleh agama, karena itu umat Islam harus menghindarinya.

"Di situ Hassan dipandang sebagai orang yang to the point dan kata-kata yang tajam bahkan terhadap teman-temannya sendiri. Jadi A. Hassan yang nampaknya keras dalam berpendapat ternyata hubungan persahabatan dengan lawan-lawannya sangat akrab,” tambah Syafiq.

Oleh karena itu, hal itu harus menjadi teladan bagi semuanya bahwa perbedaan itu tidak harus menjadi pangkal permusuhan bagi sesama, sambung Syafiq.

"Di samping Hassan paling produktif dia juga paling detail dalam agama, tetapi kelebihan Ahmad Syurkati adalah dia fokus terhadap komunitas masyarakat Arab karena mereka mempunyai problema sendiri yang tidak dimiliki oleh komunitas lain yang ada di Indonesia,” paparnya.

Sementara Ahmad Dahlan, kelebihannya adalah mempunyai perhatian terhadap masalah-masalah sosial misalnya soal kemiskinan, kebodohan dan sebagainya.

"Bisa dipandang Dahlan sebagai man of action sekalipun fikiran-fikiran itu ada. Sedangkan Hassan sebagai man of ideas,” tutur Doktor lulusan Islamic Studies, University of California, Los Angeles ini.

Dari sudut budaya atau tradisi, masyarakat muslim yang berkembang di nusantara, Indonesia atau Malaysia memerlukan orang seperti A. Hassan untuk melakukan perubahan, tutupnya.

(Ali Muhtadin).
Bagikan! Bagikan! Bagikan! Bagikan!

About Unknown

0 comments:

Post a Comment